Ditahun 90an kita pernah mendengar sebuah karya tulisan
dengan judul “Primadosa Suharto” dan “Primadusta Suharto” yang ditulis oleh
seorang penulis yang bernama Wimanjaya. Para pembaca dapat melihat dan menilai
bila tulisan Wimanjaya pada buku Primadosa Suharto dan buku Primadusta Suharto
cenderung bersifat opini dengan asumsi-asumsi yang tidak berdasar, hanya
bersifat tuduhan dengan tujuan mendiskreditkan Suharto agar dibenci oleh rakyat
Indonesia. Salah satu contoh dari isi tulisan karya Wimanjaya adalah mengenai,
“Suharto telah mengubah Pancasila menjadi Pancadusta”. Ini jelas merupakan
tuduhan yang mengada-ada karena dimasa Orde Baru tidak pernah sekalipun terjadi
perubahan atas Pancasila ataupun UUD45. Tulisan tersebut jelas berisi Fitnah
yang bersifat tendensius.
Setelah membaca dan menelaah berbagai tulisan yang berkaitan
dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia disini penulis ingin menunjukan
berbagai dusta yang pernah dilakukan oleh seorang Sukarno kepada bangsa
Indonesia dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Semua dusta-dusta yang
pernah dilakukan oleh Sukarno dimulai dari tahun 1923 saat berdusta kepada H
Sanusi yang begitu mempercayai Sukarno namun ternyata dibelakangnya malah
berselingkuh dengan isterinya yang bernama Inggid Ganarsih. Ternyata kesuksesan
dusta ini menjadikan sebuah hoby atau membuat Sukarno menjadi ketagihan untuk
melakukan dusta-dusta berikutnya. Harus diakui bila sifat dusta Sukarno memang
didukung oleh kemampuan Sukarno dalam berorasi . Sukarno memang dikenal sebagai
orator ulung yang mampu membuat setiap pendengarnya mempercayai ucapan-ucapan
yang keluar dari mulutnya. Kemampuan Sukarno ini dapat disejajarkan dengan
Hitler, Lenin, Mao Tse Tung ataupun Keneddy
.
Sekarang penulis ingin mengajak pembaca untuk membahas
beberapa dusta yang pernah dilakukan Sukarno disepanjang perjalanan hidupnya
kepada bangsa Indonesia dan orang-orang yang berada disekitarnya.
1. Dusta pertama Sukarno dimulai dari dustanya kepada H.
Sanusi , suami dari Inggid Ganarsih. Sukarno yang kala itu merupakan mahasiswa
yang sedang menempuh pendidikan di Bandung, kebetulan indekos dirumah milik H
Sanusi. Tutur kata dan sikap Sukarno yang terlihat santun membuat H Sanusi
menaruh kepercayaan kepada Sukarno, apalagi diketahui pula bila Sukarno
merupakan murid dari HOS Cokroaminoto. Namun ternyata kepercayaan yang
diberikan oleh H Sanusi kepada Sukarno malah berbalas pengkhianatan karena
secara diam-diam Sukarno malah tega melakukan perselingkuhan dengan isteri H
Sanusi. Didepan H Sanusi, Sukarno berusaha bersikap sewajarnya namun disaat H
Sanusi tidak ada Sukarno dan Inggid Ganarsih asyik memadu kasih layaknya orang
yang sedang kasmaran. Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat
pasti akan jatuh juga. Begitu juga dengan kisah dusta Sukarno yang akhirnya
diketahui oleh H Sanusi. Merasa telah ditipu dan dikhianati oleh Sukarno
akhirnya H Sanusi melepas Inggid Ganarsih dan meminta Sukarno untuk segera
menikahi Inggid. Ternyata kesuksesan dusta ini menjadikan Sukarno seperti
ketagihan untuk melakukan dusta-dusta yang selanjutnya.
2. Dusta selanjutnya yang dilakukan Sukarno adalah saat
mendustai Inggid Ganarsih. Sebagai isteri yang setia, sejarah bangsa Indonesia
mengakui bila Inggid Ganarsih telah mendampingi
Sukarno dalam suka maupun duka. Inggid Ganarsih selalu menemani Sukarno
saat diasingkan. Dusta ini terjadi disaat Sukarno diasingkan di Bengkulu.
Sebagai murid HOS Cokroaminoto, Sukarno cukup mudah diterima berbagai kalangan
ulama dan tokoh pergerakan. Saat menjalani pengasingan di Bengkulu , Sukarno
bertemu dengan Fatmawati yang merupakan putri dari salah satu tokoh ulama
disana. Fatmawati yang sering berkunjung kekediaman Sukarno dan Inggid bahkan
sudah dianggap sebagai anak sendiri. Kebetulan memang Sukarno dan Inggid
Ganarsih tidak memiliki anak saat itu. Rutinitas pertemuan antara Sukarno dan Fatmawati
rupanya membuat hubungan yang seharusnya terjadi antara bapak dan anak malah
berubah menjadi hubungan antara sepasang kekasih. Secara diam-diam, dibelakang
Inggid Ganarsih, Sukarno malah menjalin
hubungan asmara dengan Fatmawati. Seperti kisah terdahulu, dusta Sukarno kepada
Inggidpun akhirnya terbongkar dan Inggid Ganarsih lebih memilih untuk kembali
ke Bandung daripada harus dimadu dengan perempuan yang sudah dianggapnya
sebagai anak sendiri.
3. Dusta selanjutnya yang dilakukan Sukarno terjadi dimasa
penjajahan Jepang. Sukarno benar-benar memanfaatkan kepiawaiannya dalam
berdusta untuk menarik perhatian penjajah Jepang. Sebagai kolaborator penjajah
Jepang, Sukarno diharuskan untuk menyediakan tenaga kerja untuk memfasilitasi
berbagai kebutuhan tentara Jepang dalam menghadapi perang Asia Raya. Disinilah
kemampuan Sukarno dalam berdusta benar-benar teruji. Sebagai pendusta kawakan
Sukarno benar-benar ahli dalam merayu rakyat Indonesia untuk bersedia bekerja
bagi bala tentara Jepang dengan menjadi Romusha. Untuk lebih meyakinkan rakyat
Indonesia, Sukarno bahkan rela mengenakan pakaian yang sama dengan para pekerja
Romusha dan malah berakting untuk menunjukan betapa mudah cara bekerjanya
dengan mengayun-ayunkan cangkulnya (baca buku Cindy Adams, My Friends, The
Dictator). Ternyata rayuan Sukarno ini menjadi Neraka Jahanam bagi para Romusha
untuk menuju kematian mereka yang sangat tragis. Bukan hanya merayu rakyat
Indonesia untuk menjadi Romusha, bahkan Sukarno juga merayu rakyat Indonesia
untuk bersedia menjadi Jugun Ianfu bagi bala tentara Jepang. Khusus untuk
perekruktan Jugun Ianfu, penulis tidak memiliki referensi bagaimana cara
Sukarno merayu atau memberi tahu cara bagaimana menjadi seorang Jugun Ianfu.
Tapi bila mengikuti gaya penulis Wimanjaya, maka penulis hanya bisa mengatakan,
“Mungkin”, Sukarno memberi tahu bagaimana mudahnya menjadi Jugun Ianfu, “Hanya
tinggal membuka baju lalu mengangkang, sesudah itu tugaspun selesai. Mungkin
juga Sukarno memberikan praktek langsung kepada para calon Jugun Ianfu seperti
dia lakukan saat mempraktektan cara kerja para Romusha. Disini lagi-lagi
penulis hanya bisa mengatakan, “MUNGKIN”. Untuk sumbangsihnya ini Sukarno
mendapatkan beberapa kemudahan dari
penjajah Jepang.
4. Dusta Sukarno selanjutnya adalah dustanya kepada ibu
Fatmawati. Tanpa sepengetahun ibu Fatmawati, Sukarno yang saat itu telah resmi
diangkat menjadi Presiden RI ternyata menjalin hubungan terlarang dengan
seorang perempuan yang bernama Hartini yang notabene masih berstatus isteri
orang lain, yaitu isteri dari Dr Suwondo. Dalam melancarkan rayuan-rayuannya
agar tidak banyak diketahui khalayak ramai, Sukarno menggunakan nama samaran
“Srihana”. Kecantikan Hartini membuat Sukarno mengabaikan norma dan etika.
Walau tahu bila Hartini masih berstatus isteri orang namun Sukarno malah
mengabaikannya malah terkesan mengabaikan nasib ke 5 anak Hartini kelak. Untuk
memuluskan niatnya, Sukarno malah menggunakan statusnya sebagai Presiden RI
untuk merekayasa suatu kasus terhadap Dr Suwondo yang menghantar Dr Suwondo ke
penjara. Lewat berbagai tekanan akhirnya Dr Suwondo harus merelakan untuk
menceraikan isterinya. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Dr Suwondo dan ke 5
anaknya pasca bercerai dengan isterinya,
Hartini. Memang akhirnya Sukarno berterus terang kepada ibu Fatmawati perihal
hubungannya dengan Hartini tapi itu dilakukan setelah status Hartini resmi
sebagai janda. Namun satu hal yang menunjukan betapa Sukarno memang seorang
manusia yang berhati tega. Sukarno justru berterus terang dan meminta izin
kepada ibu Fatmawati pada saat ibu Fatmawati baru 2 hari melahirkan bayi yang
bernama Guruh Sukarnoputra. Pada dusta kali ini, Sukarno telah melakukan
perbuatan yang sungguh-sungguh sangat tidak pantas, yaitu mengabaikan nasib ke
5 anak yag masih membutuhkan kasih sayang ibunya dan perasaan seorang perempuan
yg baru saja melahirkan namun dipaksa mendengar permintaan sang suami untuk
kawin lagi.
5. Dusta Sukarno kepada Bung Hatta saat memberikan perintah
untuk menyetujui semua poin yang diminta Belanda dalam perjanjian KMB termasuk
poin yang mewajibkan bangsa Indonesia untuk mengakui dan membayar semua hutang
perang Belanda yang notabene merupakan hutang buat membeli peralatan perang
yang digunakan untuk membunuhi bangsa Indonesia. Para pejuang kemerdekaan waktu
itu jelas-jelas menolak isi perjanjian KMB terutama pengakuan hutang perang
Belanda, namun kepiawaian Sukarno dalam meyakinkan para pendengarnya mampu
mengubah persepsi yang ada. Beberapa pejuang yang semula menolak isi perjanjian
akhirnya menyetujui pemikiran Sukarno untuk menyetujui isi perjanjian KMB. Pada
akhirnya, hutang perang Belanda memang tidak pernah dibayar oleh Sukarno dan
ini yang membuat bung Hatta sebagai orang yang menandatangani isi perjanjian
KMB merasa terpukul . Bung Hatta merasa kehormatan dan martabat sebagai bangsa
yang beradab akan tercoreng karena mengingkari perjanjian yang telah
disepakati. Bung Hatta sebagai orang yang santun dan memegang teguh setiap
perkataannya akhirnya berhasil membujuk Suharto untuk membayar hutang perang
ini namun Suharto meminta waktu pencicilan jangka panjang selama 35 tahun.
Hutang perang ini dilunasi bangsa Indonesia ditahun 2009 dimasa pemerintahan
SBY.
6. Dusta Sukarno kepada bangsa Indonesia saat mengeluarkan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sukarno menggunakan slogan, “KEMBALI KE UUD45”
saat menerbitkan Dekrit Presiden 1959 namun pada kenyataannya Dekrit Presiden
1959 malah kian menyimpang jauh dari perintah UUD45. Dekrit Presiden 1959
adalah bukti nyata dusta Sukarno kepada bangsa Indonesia. Kita semua mengetahui
latar belakang keluarnya Dekrit Presiden 1959 adalah akibat tidak tercapai kata
mufakat dalam persidangan dewan konstituante. Tiga kali sidang yang diadakan
dewan konstituante yang ternyata dead lock karena tidak mencapai kuorum menjadi
alasan bagi Sukarno untuk menerbitkan Dekrit Presiden dan membubarkan dewan
konstituante. Seharusnya sesuai dengan janji yang diucapkan, Sukano seharusnya
menjalankan konstitusi sesuai dengan UUD45 dengan segera mengadakan pemilu
untuk menggatikan anggota dewan yang telah dibubarkan. Sukarno malah menjadikan
ujung jari telunjuknya sebagai pengganti suara rakyat Indonesia dalam
menempatkan wakil rakyat di dewan.
Anggota dewan yang diangkat lewat penunjukan langsung oleh telunjuk
Sukarno tentu akan bertanggung jawab kepada orang yang mengangkatnya dan
mengikuti perintah dari orang yang mengangkatnya. Pasca terbitnya Dekrit
Presiden 1959 memang terbukti bila kekuasaan Sukarno menjadi tidak terbatas.
Kedudukan Sukarno bagai lebih tinggi daripada konstitusi itu sendiri. Ini
berarti Dekrit Presiden 1959 telah menjadi alat pembunuh bagi Demokrasi di
Indonesia, persis seperti ucapan Prof Sahetappy dan bung Karni Ilyas. Bahkan
Bung Hatta pernah mempertanyakan terbitnya Dekrit Presiden 1959 lewat sebuah
tulisan pada koran milik Buya Hamka yang malah menghantarkan Buya Hamka
kepenjara tanpa pernah sekalipun diadili untuk membuktikan kesalahannya. Sekali
lagi penulis mengatakan bila Dekrit Presiden 1959 adalah bentuk Dusta Sukarno
yang paling transparan namun tidak ada seorangpun yang berani membantahnya.
7. Dusta Sukarno kepada Jenderal Ahmad Yani. Kita sudah
sering mendengar bila dulu, saat menjelang peristiwa G30S Sukarno pernah
membisikan Jenderal Ahmad Yani untuk kelak menggantikan dirinya bila suatu saat
dirinya berhalangan tetap. Hal ini diungkapkan Sukarno dengan alasan dirinya
sudah dalam keadaan sakit-sakitan. Apakah benar ucapan yang diucapkan Sukarno
memang benar adanya atau itu hanyalah dusta seperti dusta yang selama ini dia
lakukan kepada orang-orang disekelilingnya ? Mari kita lihat peristiwa yang
terjadi dimasa itu. Ternyata disaat Sukarno menjanjikan sesuatu kepada Jenderal
Ahmad Yani, Sukarno juga sedang melakukan pendekatan asmara dengan seorang
gadis belia yang bernama Heldy Jaffar. Bila memang Sukarno memiliki respek atau
perhatian yang besar kepada Jenderal Ahmad Yani tentu Sukarno akan menunjukan
apresiasi atau belasungkawa yang cukup mendalam atas kematian Jenderal Ahmad
Yani. Dusta Sukarno atas peristiwa ini
dapat dibuktikan dari sikap Sukarno atas kematian Jenderal Ahmad Yani beserta 6
perwira lainnya. Dibeberapa kesempatan Sukarno tidak pernah menunjukan rasa
empaty atas kematian Jenderal Ahma Yani dan ke 6 perwira lainnya, bahkan sikap
Sukarno seolah menyepelekan arti kematian mereka. Ucapan Sukarno yang
mengibaratkan kematian mereka “Bagia Riak Kecil Ditengah Samudera” semakin
memperkuat bukti bila Sukarno memang tidak pernah memberikan respek atas
kematian mereka. Bahkan ucapan lain yang mengibaratkan darah mereka yang tumpah
membasahi bumi pertiwi bagai “Setetes Darah Dalam Sejarah” semakin memperjelas
sikap Sukarno yang memang tidak sedikitpun memberikan apresiasi atau empaty
atas kematian mereka. Bahkan disuatu kesempatan Sukarno pernah mengucapkan
“Kadang dalam sebuah revolusi seorang bapak harus memakan anaknya sendiri”.
Ucapan ini pernah dipertanyakan Jenderal Nasution kepada Sukarno yang tidak
pernah mampu dijawab Sukarno hingga akhir hayatnya. Dari dua kondisi yang
kontradiktif maka dapat disimpulkan bila Sukarno telah melakukan dusta kepada
Jenderal Ahmad Yani. Disatu sisi Sukarno menjanjikan sesuatu karena merasa
sudah sakit-sakitan tapi disisi lain malah melakukan sesuatu seolah dirinya
sehat dan bugar (mendekati Heldy Jaffar), lalu disatu sisi merasa menyayangi
dan mempercayai Jenderal Ahmad Yani tapi disisi lain tidak pernah sekalipun
memberikan apresiasi atau empaty atas musibah yang dialami orang yang disayangi
atau dipercayainya. Silahkan pembaca yang menilai sendiri.
8. Dusta Sukarno kepada bangsa Indonesia saat mengumandangkan
slogan “Anti Amerika dan Anti Barat”. Teriakan Sukarno saat berpidato didepan
rakyat Indonesia, “AMERIKA KITA SETRIKA…INGGERIS KITA LINGGIS…”, begitu
berapi-api mengobarkan semangat rakyat untuk membenci Amerika dan dunia barat
namun pada kenyataannya justru Sukarno menggunakan produk-produk yang
dihasilkan Amerika dan dunia barat. Hal ini dapat kita telusuri dari hoby
Sukarno yang gemar mengoleksi mobil buatan Amerika dan dunia barat. Mari kita
lihat beberapa koleksi mobil yang dimiliki Sukarno seperti Chrysler Windsor,
Chrysler Crown Imperial, Marcedes Benz 600, Morris Mini Cooper, Lincoln
Cosmopolitan, Ford Thunder Bird dll, lalu Sukarno juga sering mengundang
beberapa artis barat untuk memeriahkan pesta-pesta yang diadakannya di
istananya. Sukarno juga mengimpor beberapa produk dari Amerika dan dunia barat
untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia seperti nasi Bulgur.
9. Dusta Sukarno yang lainnya adalah saat memperdaya Molly
Mambo disaat tunangannya Alexander
Daniel Maukar menjalani pendidikan ke Rusia. Seperti dusta-dusta yang lain, kali
inipun Sukarno melakukan dusta demi kepuasan pribadinya. Disalah satu pertemuan
dengan para perwira AU rupanya Sukarno tertarik dengan kecantikan dan kemolekan
Molly Mambo yang merupakan instruktur senam dan guru bahasa asing. Untuk
memuluskan niatnya, Sukarno sengaja memisahkan Alexander Daniel Maukar dengan
Molly Mambo sang tunangannya. Lewat program pendidikan ke Rusia, Sukarno
berhasil mengirim Alexander Daniel Maukar untuk menjalani pendidikan di Rusia.
Lalu dengan alasan sebagai penghargaan kepada keluarga yang ditinggalkan,
Sukarno mengundang Molly Mambo ke istananya di Cipanas. Disinilah peristiwa
terkutuk itu terjadi. Sukarno tega merenggut paksa kehormatan Molly Mambo. Hal
inilah yang membuat Alexander Daniel Maukar merasa marah lalu melakukan serangan
dengan menggunakan pesawat MIG 17 ditahun 1960. Peristiwa ini mengakibatkan
korban jiwa belasan orang dan puluhan luka-luka. Pada suatu tulisan ditahun
2007 lalu saat kematian Alexander Daniel Maukar, ibu Hafsah Salim membuat surat
terbuka yang diterbitkan koran Kompas yang mengecam perbuatan Sukarno ini.
10. Dusta Sukarno yang lainnya adalah membiarkan rakyat
Indonesia kelaparan dan memberikan mereka makanan yang bernama nasi Bulgur yang
merupakan makanan kuda dinegara asalnya Amerika, sementara Sukarno asyik
berfoya-foya mengadakan pesta dansa-dansi di istananya. Inilah dusta yang
paling memalukan dari seorang pemimpin bangsa. Sukarno menyerukan kepada rakyat
Indonesia untuk hidup bersusah payah demi tercapainya cita-cita Revolusi tapi
Sukarno sendiri malah hidup bermewah-mewah dengan menggunakan uang rakyat
Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari surat-surat yang ditulis Sukarno kepada
para gundiknya seperti surat kepada Heldy Jaffar yang bercerita tentang kiriman
berlembar-lembar uang dolar atau pembelian perhiasaan kepada Haryatie, namun
disaat yang sama rakyat Indonesia dibiarkan kelaparan dan hidup dalam
kemiskinan. Ini fakta dusta Sukarno yang paling tragis dan tega. Sukarno tega
hidup bermewah-mewah dengan uang rakyat sementara sang pemilik uang dibiarkan
hidup sengsara dan kelaparan.
Masih banyak lagi dusta-dusta Sukarno yang lainnya, namun
penulis sengaja menampilkan 10 dusta untuk para pembaca. Dusta yang lainnya
adalah dusta Sukarno atas penggunaan uang rakyat Indonesia yang tidak pernah
dipertanggung jawabkan sekalipun. Dimasa pemerintahan Orde Baru, Presiden
secara berkala ditiap tanggal 31 Maret selalu memberikan laporan pertanggung
jawaban atas penggunaan keuangan negara.
****000****
****000****